Indonesia telah lama dikenal sebagai negara penghasil talenta terbaik di dunia untuk pemain profesional Mobile Legends: Bang Bang (MLBB). Namun, fase Wildcard dari M7 World Championship telah menyoroti ada kekuatan lain dari ekosistem esports Indonesia: kemampuan untuk membentuk pelatih kelas dunia.

Di M7 Wildcard, tiga pelatih yang membangun fondasi kepelatihan mereka di Indonesia kini memimpin tim dari tiga region berbeda dalam perebutan dua slot tersisa menuju Swiss Stage. Tezet (Bootsgate Esports / Turki), Vren (Guangzhou Gaming / Tiongkok), dan FlySolo (Virtus.pro / EECA) semuanya memulai perjalanan kepelatihan mereka di kancah MLBB Indonesia yang sangat kompetitif, sebelum membawa keahlian mereka ke luar negeri.
Kehadiran mereka di M7 Wildcard mencerminkan bagaimana lingkungan kompetitif Indonesia yang intens dapat berfungsi sebagai tempat pembuktian, bukan hanya untuk pemain elit tetapi juga untuk para pelatih yang mampu melangkah ke panggung global. Berkat pengalaman tersebut, ketiga pelatih itu kini menjadi pusat perhatian di babak Wildcard, masing-masing sukses mengantarkan tim melalui pertandingan pembuka dengan kemenangan meyakinkan 2-0 dan memposisikan diri sebagai kandidat serius untuk lolos ke fase berikutnya.
Di antara ketiga pelatih tersebut, Tezet adalah satu-satunya pelatih asal Indonesia yang berkompetisi di M7 Wildcard. Pelatih dengan nama asli Yosua Sanger ini menangani Bootsgame Esports dan berhasil lolos ke Kejuaraan Dunia MLBB ketujuh setelah memimpin timnya meraih posisi runner-up di MTC Turkiye Championship Season 6—sebuah peningkatan dibandingkan saat ia pertama kali memimpin Boostgate Esports dan berkompetisi di kancah MLBB Turki.
Sebelumnya, nama Tezet semakin dikenal sebagai pelatih setelah berhasil mengangkat AURA Fire dari keterpurukan dan mengantarkan tim dua kali finis di posisi ketiga di MPL ID Season 9 dan 10. Prestasi tersebut merupakan hasil terbaik tim sejak pertama kali berkompetisi di liga MLBB tertinggi di Indonesia saat itu, sebelum ia melatih beberapa tim lainnya dan hijrah ke luar negeri.
Hal ini menunjukkan bahwa kompetisi dan ekosistem esports MLBB di Indonesia bukan hanya “pabrik” penghasil talenta pemain yang luar biasa, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mengembangkan pelatih-pelatih top yang mampu bersaing di tingkat internasional. Hal yang sama juga dapat berlaku ketika kita berbicara tentang karier FlySolo dan Vren saat ini.
Meskipun memegang kewarganegaraan Filipina, FlySolo memulai karier kepelatihannya di Indonesia. Ia pertama kali mengambil peran tersebut bersama PABZ Esports di MDL ID Season 6, sebelum pindah ke Pendekar Esports pada musim berikutnya. Meskipun ia tidak mampu mencapai hasil yang diinginkan bersama tim-tim tersebut, karier FlySolo justru terus meningkat saat memutuskan hengkang dari Indonesia dan melatih tim-tim di beberapa region berbeda seperti Deus Vult (EECA), Todak (MPL MY), dan See You Soon (MPL KH), sebelum bergabung dengan Virtus.pro pada Mei 2025, di mana ia masih berada hingga saat ini.
Situasi serupa dialami oleh Vren. Pelatih asal Filipina ini memang memulai karier kepelatihannya bersama TNC Pro Team di MPL PH Season 9. Namun setelah itu, ia langsung direkrut oleh Bigetron Esports untuk melatih tim mereka di MPL ID Season 10, sebelum kembali ke Filipina bersama BREN Esports dan kemudian direkrut lagi oleh tim MPL Indonesia lainnya, RRQ Hoshi, di MPL ID Season 13.
Meskipun sulit bagi mereka untuk bersinar saat bekerja dengan tim-tim Indonesia, pengalaman yang diperoleh dari berkompetisi di kancah esports MLBB Tanah Air tidak dapat diragukan lagi telah memberikan dampak besar pada karier kepelatihan FlySolo dan Vren. Dulu mereka dianggap tidak mampu membuktikan diri, tetapi kini mereka mampu menorehkan prestasi di panggung dunia dan memberikan pengaruh di dua region berbeda.
Akan menarik untuk melihat bagaimana perjalanan ketiga pelatih ini di Wildcard setelah sama-sama kembali ke Indonesia untuk bersaing di M7. Hanya ada dua tim yang akan berhak maju ke Swiss Stage dari fase ini, dan slot tersebut tidak hanya diperebutkan oleh ketiga pelatih tersebut, tetapi oleh total delapan tim yang berjuang keras untuk mengamankannya.









