spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaEsportsMobile LegendsRoad to Playoff MPL Indonesia Season 17: Minggu Berdarah...

Road to Playoff MPL Indonesia Season 17: Minggu Berdarah is Back! Kesempatan Terakhir RRQ Hoshi, Kendala Setiap Tim Susul ONIC

Ketatnya persaingan yang terjadi di Mobile Legends: Bang Bang Professional League (MPL) Indonesia Season 17 membuat klasemen dapat bergejolak dari satu match ke match lainnya. Delapan tim masih punya peluang mengikuti jejak ONIC ke playoff, dan beberapa di antaranya punya poin sangat berdekatan yang membuat tensi persaingan menjadi sangat panas dan mengembalikan narasi “Minggu Berdarah”.

Setelah ONIC memastikan diri sebagai tim pertama yang lolos ke babak playoff, kini tinggal lima tiket tersisa yang harus diperebutkan delapan tim lainnya. Tidak ada tim yang bisa dibilang cukup nyaman untuk bisa menyusul Raja Langit, terlebih karena hasil pertandingan sangat sulit untuk ditebak, plus setiap tim bisa saling mengalahkan pada musim ini.

Misi Mustahil RRQ Hoshi Menuju Playoff?

Mulai dari DEWA United Esports yang bertengger di posisi ke-2 hingga RRQ Hoshi yang terjerembab di posisi ke-9, tidak ada satu pun tim yang posisinya benar-benar aman. Jarak poin yang sangat rapat memastikan bahwa narasi ikonik “Minggu Berdarah” sudah kembali tersaji mulai Week 7 regular season dan membuat setiap pertandingan akan berlangsung layaknya partai final hingga Week 9.

Bicara soal hidup-mati, Week 7 ini akan menjadi momen penentuan bagi RRQ Hoshi. Ini akan menjadi kesempatan terakhir bagi Sang Raja untuk menjaga asa lolos ke playoff.

Demi menjaga asa tersebut, syarat utamanya adalah mutlak: RRQ Hoshi wajib menyapu bersih poin saat berhadapan dengan Geek Fam dan EVOS di Week 7, hingga akhir regular season. Jika sekali saja mereka terpeleset, gerbang playoff akan semakin rapat, bahkan benar-benar tertutup bagi SuperKenn dkk, tergantung hasil dari pertandingan lainnya.

Setelah Geek Fam dan EVOS, secara berturut-turut RRQ Hoshi akan menghadapi Team Liquid ID, NAVI, Alter Ego, dan DEWA United. Tidak akan mudah untuk bisa menyapu bersih kemenangan di semua pertandingan ini, hingga membuat narasi “Misi Mustahil” muncul bagi Sang Raja di sepanjang “Minggu Berdarah”. Namun, tidak ada yang tidak mungkin bisa terjadi di MPL Indonesia musim ini.

Bedah Masalah Setiap Tim untuk Susul ONIC ke Playoff

Meski sempat kalah dua kali, ONIC masih layak disebut sebagai tim paling konsisten di MPL Indonesia Season 17. Lalu, hal apa yang membuat tim-tim lain belum bisa disebut konsisten? Seperti apa kesiapan dan pekerjaan rumah masing-masing tim yang harus segera diperbaiki untuk bisa mengamankan satu dari lima tiket menuju Jakarta International Velodrome? Berikut bedah peluang dan masalah tiap tim:

AYO BACA INI :  5 Cara Dapatkan Skin Harley Naughty Joker Mobile Legends (ML)

DEWA United Esports: Terbayang Hantu Inkonsistensi

Hingga Week 6, DEWA United baru kalah tiga kali. Selain kekalahan telak 0-2 dari EVOS, seharusnya Octa dkk bisa meraih kemenangan di dua match lainnya ketika takluk 1-2 dari Team Liquid ID dan ONIC.

Dari dua kekalahan tipis tersebut, DEWA United harus bisa belajar tentang memanfaatkan momentum yang dimiliki untuk memastikan kemenangan, terutama ketika mereka sempat unggul terlebih dahulu di game pertama menghadapi ONIC dan menguasai early-mid game kedua, tetapi sirna karena kesalahan sendiri.

Konsistensi dari game ke game dalam sebuah Match masih menjadi pekerjaan rumah terbesar Anak Dewa. Buktinya terlihat jelas saat mereka kalah 1-2 dari ONIC di Week 3 dan harus bersusah payah menang 2-1 atas tim papan bawah NAVI di Week 6. DEWA butuh fokus 100% di setiap game jika ingin mempertahankan takhta peringkat kedua.

Meski kini masih berada di posisi kedua klasemen, dengan performa yang patut diacungi jempol, belajar dari kesalahan tersebut sangat diperlukan untuk memastikan diri lolos dan bisa berbicara banyak di playoff. Status “papan atas” saat ini bukan berarti mereka tanpa celah dan hal ini harus menjadi perhatian semua player dan staf pelatih.

Bigetron by Vitality: Sang “Robin Hood”

Secara kualitas roster dan mekanik gameplay, Bigetron (BTR) sangat layak berada di jajaran penantang juara. Mereka sering menghadirkan kejutan epik, termasuk saat menjadi tim pertama yang menumbangkan ONIC.

Anehnya, Robot Merah ini sering kali bertingkah layaknya “Robin Hood” yang gemar bersedekah poin kepada tim-tim yang sedang terpuruk. Puncaknya terjadi di Week 6 lalu, ketika BTR secara mengejutkan “memberikan” kemenangan perdana bagi RRQ Hoshi (0-2) di musim ini, terutama jika melihat draft hero yang dimiliki.

Kebiasaan ini harus seharusnya segera dihentikan jika BTR tidak ingin berada di posisi yang lebih berbahaya lagi. Meski masih berada di #3 sejauh ini, tetapu mereka hanya unggul satu kemenangan dari Geek Fam yang berada di posisi #7 alias zona merah.

Team Liquid ID: Darurat Fleksibilitas Draft

Sempat bersinar dan menjadi sorotan di awal musim, Team Liquid ID (TLID) kini mulai kehabisan bensin. Masalah utama mereka sangat jelas: pilihan hero dan rotasi gameplay mereka sudah terbaca oleh lawan.

AYO BACA INI :  Roster Evos S10 lebih bagus dari WORLD Mobile Legends (ML)?

Ketika hero power mereka di-banned, TLID tampak kebingungan. Memasuki “Minggu Berdarah”, staf pelatih TLID wajib meningkatkan fleksibilitas draft agar tidak mudah ditebak dan dieksploitasi oleh musuh.

Alter Ego: Terjebak dalam Bayang-Bayang Masa Lalu

Datang dengan kekuatan yang nyaris sama dengan skuad yang sukses menjadi Runner-up MPL ID S16 dan M7 World Championship, Alter Ego justru terseok-seok musim ini. Berada di posisi ke-5 klasemen, konsistensi adalah musuh terbesar AE.

Mereka bisa tampil bak dewa yang tak tersentuh di satu game, namun bisa tampil di bawah standar performa pada game berikutnya. Nino dkk harus segera menemukan kembali formula terbaik dan stabilitas mental mereka seperti sebelumnya untuk kembali menjadi penantang gelar musim ini.

EVOS: Sang Macan Masih Pilah-pilih Taring Utama

Hingga Week 6 usai, EVOS masih terlihat kebingungan mencari formula terbaiknya untuk diturunkan. Perombakan line-up utama masih sering terjadi, terutama di posisi krusial Midlaner, di mana mereka merotasi Treacky dan Pheww.

Pergantian pemain ini bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi senjata rahasia menghadapi gameplay tim tertentu, tetapi di sisi lain dalam menurunkan kualitas kerja sama tim yang dapat memengaruhi performa tim ketika bertanding.

Meskipun pihak tim mengaku bahwa rotasi ini didasarkan pada hasil scrim dan latihan, bongkar-pasang jelang musim reguler berakhir ketika masih berada di posisi yang tidak aman, membuktikan bahwa Sang Macan Putih belum benar-benar menemukan taring paling mematikan dari roster yang mereka miliki.

Geek Fam: Kesulitan Menggelindingkan “Snowball”

Geek Fam sebenarnya sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan. Mereka telah menemukan formula yang pas bersama MarceL di EXP Lane, sementara Nazara mulai menyatu bersama tim dan beradaptasi dengan atmosfer panggung MPL ID.

Sayangnya, hingga Week 6 mereka masih terjebak di zona merah klasemen. Salah satu kendala utama Geek Fam saat ini adalah ketidakmampuan mereka mengubah keunggulan di early game menjadi snowball untuk menutup pertandingan.

Mereka kerap memberi lawan terlalu banyak ruang untuk scaling, yang berujung pada comeback menyakitkan di late game. Hal ini dipercaya menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, jika mereka ingin tampil di Jakarta International Velodrome.

NAVI: PR Besar Bernama “End Game”

Secara mekanik, Natus Vincere (NAVI) sering kali mampu mengimbangi tim-tim besar. Mereka lihai mencari keunggulan di fase early hingga mid-game. Namun, penyakit mereka sangat kronis: kesulitan dalam menemukan cara menyelesaikan permainan (end game).

AYO BACA INI :  #EChouLOUD: Ini dia tampilan pertama dari Skin Champion M4 terbaru, Chou

NAVI seakan pasrah melepaskan kendali saat pertandingan menyentuh menit-menit krusial. Jika tidak segera memperbaiki pengambilan keputusan di fase perebutan Lord dan base push, peluang NAVI ke playoff bisa tinggal angan-angan di sepanjang “Minggu Berdarah”.

RRQ Hoshi: Disiplin Adalah Kunci Kebangkitan

Performa Sang Raja sebenarnya mulai menunjukkan grafik positif. Kemenangan mutlak 2-0 atas Bigetron di Week 6 adalah bukti nyata bahwa DNA juara itu masih ada, meski langsung terhenti di tangan ONIC.

Meski demikian, setidaknya tanda-tanda kebangkitan sudah mulai terlihat. Sayangnya, penyakit lama mereka kerap kambuh: sering membuang keunggulan di early-mid game akibat melakukan gerakan tambahan alias blunder.

Kedisiplinan adalah harga mati bagi skuad RRQ saat ini. Ketika sedang unggul, mereka tidak boleh terpancing melakukan teamfight yang tidak perlu dan lebih berfokus kepada cara menyelesaikan permainan. Week 7 akan menjadi ujan pertama Sang Raja di “Minggu Berdarah” karena nasib tim masih berada di tangan mereka sendiri.

spot_img
Muhammad nugraha
Muhammad nugrahahttps://esportsku.com
Saya pemain pro free fire dengan peraih posisi top global untuk KD saat ini.
Advertisement
Advertisement